Kalau Anda pernah mendengar kisah Isra Miraj, pasti yang terlintas di pikiran adalah perjalanan luar biasa Nabi Muhammad SAW dalam waktu semalam. Saya sendiri, waktu pertama kali dengar kisah ini di sekolah, benar-benar dibuat takjub. Coba bayangkan, beliau berangkat dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa, lalu naik menembus tujuh lapis langit—semua itu terjadi dalam satu malam saja! Yuk, kita telusuri bersama kisah Isra Miraj singkat yang penuh makna dan menyentuh hati.
Apa Itu Isra Miraj?
Sebelum cerita makin seru, saya mau ajak Anda pahami dulu apa itu Isra Miraj.
Peristiwa Isra merupakan perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem, Palestina. Perjalanan ini bukan sekadar mimpi atau pengalaman spiritual semata, melainkan benar-benar terjadi dengan tubuh dan jiwa sekaligus.
Sedangkan Miraj adalah perjalanan Nabi naik ke langit hingga Sidratul Muntaha, tempat tertinggi yang tak bisa dijangkau siapa pun kecuali yang Allah izinkan.
Kedua peristiwa ini terjadi dalam satu malam dan jadi salah satu mukjizat terbesar Rasulullah SAW. Kejadian ini diabadikan dalam Al-Qur’an, tepatnya di surah Al-Isra ayat 1:

Latar Belakang Terjadinya Isra Miraj
Kalau kita lihat dari sejarah, peristiwa Isra Miraj terjadi saat Rasulullah sedang berada dalam masa paling sulit dalam hidupnya. Tahun itu bahkan disebut “‘Amul Huzni” atau tahun kesedihan. Kenapa?
- Istri tercinta beliau, Khadijah RA, wafat.
- Paman beliau, Abu Thalib, yang selalu melindungi dari gangguan kaum Quraisy, juga meninggal.
- Sebelumnya, dakwah beliau di Thaif ditolak keras, bahkan dilempari batu sampai berdarah. Sungguh ujian yang berat bagi seorang Rasul.
Di tengah luka batin itu, Allah menghibur beliau lewat perjalanan suci ke langit. Maka, tak salah jika dikatakan bahwa Isra Miraj adalah bentuk kasih sayang Allah yang begitu dalam kepada Nabi-Nya yang sedang diuji.
Perjalanan Isra: Dari Mekkah ke Masjidil Aqsa
Perjalanan dimulai di malam hari. Rasulullah sedang berada di sekitar Ka’bah, lalu didatangi malaikat Jibril dan Mikail. Hati beliau dibersihkan dengan air zamzam sebagai persiapan sebelum memulai perjalanan agung ini.
Setelah itu, Rasulullah dinaikkan ke atas kendaraan bernama Buraq, hewan berwarna putih yang ukurannya lebih besar dari keledai tapi lebih kecil dari bagal, dengan kecepatan luar biasa yang tak bisa dibandingkan dengan kendaraan apa pun di dunia. Kata Jibril, “Langkahnya sejauh mata memandang.”
Di bagian awal perjalanan ini, Nabi Muhammad SAW sampai di Masjidil Aqsa di Yerusalem—tempat suci yang memiliki sejarah panjang dalam kisah para nabi. Di sana, Nabi Muhammad menjadi imam salat bagi para nabi terdahulu seperti Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa. Momen ini jadi simbol bahwa Rasulullah adalah pemimpin para nabi.
Perjalanan Miraj: Naik ke Langit Bertemu Para Nabi
Setelah itu, dimulailah Miraj, perjalanan ke langit. Malaikat Jibril mendampingi Nabi Muhammad dalam perjalanan menuju langit pertama hingga langit ketujuh.

Mereka semua menyambut beliau dengan penuh penghormatan. Di setiap lapisan langit, para nabi terdahulu menyambut beliau dengan salam hormat, sebagai bentuk pengakuan atas risalah yang beliau emban.
Setelah langit ketujuh, Rasulullah naik ke Sidratul Muntaha, tempat tertinggi yang bahkan Jibril tidak bisa ikut. Di puncak perjalanan itulah, Allah SWT langsung menyampaikan perintah salat lima waktu kepada Rasulullah—tanpa perantara wahyu seperti biasa. Awalnya, salat diperintahkan 50 kali sehari. Tapi setelah Nabi Musa menyarankan untuk meminta keringanan, jumlahnya dikurangi jadi lima waktu—namun pahalanya tetap seperti 50 salat.
Hikmah Isra Miraj yang Bisa Kita Petik
Cerita Isra Miraj ini bukan cuma kisah luar biasa, tapi juga penuh pelajaran buat kita semua. Saya pribadi, setiap kali merenungi kisah ini, merasa makin dekat dengan Allah. Berikut beberapa hikmah penting dari peristiwa ini:
1. Salat adalah Hadiah Langsung dari Allah
Nggak seperti ibadah lain yang diturunkan lewat wahyu biasa, salat disampaikan langsung oleh Allah kepada Nabi Muhammad di Sidratul Muntaha. Ini menunjukkan betapa pentingnya salat dalam kehidupan kita sebagai Muslim.
2. Kesedihan Pasti Ada Akhirnya
Saat hidup lagi berat, ingatlah bahwa bahkan Nabi Muhammad pun pernah melalui masa-masa sulit. Meskipun sebelumnya perintah salat diberikan sebanyak 50 kali, akhirnya dikurangi menjadi 5 kali saja—namun tetap mendapat pahala yang sama seperti menjalankan 50 salat. Perjalanan ini adalah bentuk kasih sayang Allah yang sangat istimewa untuk Rasulullah dan umatnya. Jadi, tetap sabar dan yakin bahwa Allah selalu punya rencana indah.
3. Allah Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu
Perjalanan Isra Miraj menunjukkan betapa kuasanya Allah. Dalam waktu semalam, Rasulullah bisa menempuh perjalanan ribuan kilometer dan naik ke langit tertinggi. Semua peristiwa ini jadi pengingat kuat bagi kita bahwa tidak ada hal yang mustahil jika Allah sudah berkehendak—apa pun bisa terjadi jika Dia berkehendak.
Penutup: Yuk, Ambil Ibrah dari Perjalanan Agung Ini
Kisah Isra Miraj memang luar biasa. Bukan hanya tentang perjalanan menakjubkan, tapi juga tentang cinta, ujian, dan ketaatan. Kita sebagai umat Nabi Muhammad seharusnya bangga dan makin semangat untuk menjalankan salat dengan khusyuk, karena itu adalah hadiah paling istimewa dalam peristiwa ini.
Baca Juga: Pesantren Adalah Jawaban Orang Tua untuk Anak Lebih Mandiri
Semoga cerita singkat ini bisa menginspirasi dan mengingatkan kita semua untuk selalu menjaga hubungan dengan Allah, terutama lewat salat lima waktu.
Jadi… bagaimana menurut Anda? Sudahkah Anda menjadikan salat sebagai prioritas dalam hidup, sebagaimana Rasulullah mendapatkannya langsung dari langit?


Leave a Comment